Headlines
Loading...
Ridwan Kamil: Kesabaran Pemimpin yang Harus Dinaikkan Levelnya

Ridwan Kamil: Kesabaran Pemimpin yang Harus Dinaikkan Levelnya

Ridwan Kamil: Kesabaran Pemimpin yang Harus Dinaikkan Levelnya

NegeriNews - Indonesia masih berusaha untuk keluar dari labirin Pandemi Covid-19. Ini krisis multidimensi yang hanya bisa diselesaikan secara Bersama-sama. Baik pemerintah maupun elemen masyarakat. Pemimpin pemerintahan menghadapi ujian berat. Menyelamatkan jiwa rakyatnya dari ancaman virus ganas Covid-19, sekaligus menjaga ekonomi. Tidak hanya itu, pemimpin daerah juga harus mendekatkan diri dengan rakyatnya yang kini berada di fase lelah dan dihadapkan pada berbagai kesulitan hidup.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berbagi cerita mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan kesabaran kepala daerah yang diuji selama Pandemi Covid-19. Kepala daerah juga harus menjaga kewarasan publik di tengah disrupsi informasi.

"Sekarang ini agenda saya 100 persen Covid-19. Pagi-siang-malam, sampai mimpi pun ngurusinnya Covid," ujar Ridwan Kamil saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Berikut petikan wawancara khusus merdeka.com dengan Ridwan Kamil.

Bagaimana pola koordinasi dengan kepala daerah seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat terkait penanganan Pandemi?

Jadi kita tiap Senin itu rapat atau Selasa, wajib. Provinsi yang paling rajin rapat rutin selama setahun tiap hari Senin itu ada di Jawa Barat. Kalau kita rutin, kita update. Nah di situlah 27 kota Kabupaten, wali kota Bupati ikut. Kadang sudah bosan ya jadi diwakilkan oleh Sekda, tapi saya 90 persen selalu hadir setiap minggu 5 kali, 52 minggu pertahun.

Saya tidak bossy, jadi harus cari cara komunikasi, Bahasa yang setara. Jadi bagaimana Bupati dan walikota tidak tersinggung dengan ucapan saya. Jadi saya mulai dengan kata punten, mohon, jika berkenan. Juga dengan prinsip sunda “Silih asah, silih asuh”.

Saya bukan tipe pemimpin yang punya skill marah-marah. Saya lebih kalem. Kedua, dengan teritorial yang luas itu, makanya sejak Covid-19 saya punya hobi baru yaitu naik motor. Karena dengan naik motor itu lebih mudah jaga jarak. Banyak kasus kepala daerah terkena Covid-19 karena keseringan naik mobil, terpapar virus dari sopir atau ajudannya. Naik motor sekaligus bisa blusukan sampai ke desa-desa, interaksi dengan warga.

Apa salah satu tantangan yang dihadapi selama Pandemi Covid-19?

Dua tahun lalu sebelum Covid ini, saya sudah tahu. The future problem itu adalah hoaks. Jadi masalah komunikasi hari ini bukan mencari informasi, tapi memilah informasi. Saya memutuskan media sosial saya untuk empat hal. Satu, menginformasikan agenda. Dua, mengedukasi. Tiga, menghibur. Empat, mengklarifikasi. Saya punya fungsi itu, jadi kalau ada fitnah-fitnah saya akan klarifikasi jadi clear dalam hitungan jam. Tapi tidak semua pemimpin memiliki kapasitas itu.

Jadi poinnya adalah menghadapi masalah ini, saya mengarahkan semua lini informasi. Setiap dinas harus punya media sosial. Saya punya unit kerja namanya Jabar Saber Hoaks, itu ribuan berita hoaks terkait Covid-19 dalam sebulan saja 80-an berita bohong terkait Covid-19 kami klasifikasi dan tiap Senin akan kami posting lima berita bohong yang beredar di pasaran. Itu cara Jawa Barat membentengi diri dari berita bohong juga mengedukasi.

Bagaimana cara Anda menjawab keluhan warga mengenai penanganan Pandemi?

Saya itu punya prinsip, kita tidak boleh marah dengan rakyat. Kalau rakyat lagi bingung, berarti kesabaran pemimpin yang dinaikkan level nya. Puisi saya, “dering menit-menit saya terbuat dari sedih, sabar tapi juga semangat”. Jadi sedih dengar beritanya, sabar menghadapi komunikasi kepada masyarakat, semangat karena kalau pemimpin tidak semangat bagaimana dengan rakyat.

Jadi kuncinya pertama saya sabar dulu. Nah saya ini punya 5 prinsip dalam mengendalikan Covid-19. Satu, selalu proaktif. Makanya kita ngasih obat gratis duluan. Semua dari curhatan warga yang saya dengerin. Jadi komunikasi saya itu bukan satu arah tapi dua. Saya balas komen, sebagian tidak dibalas pun sebenernya saya baca, saya tandai, saya screenshot, saya kirim ke ajudan, Kepala Dinas, Pemda.

Dua, pemimpin itu komunikasinya dua arah jangan hanya kita yang ingin didengerin tapi kita juga harus mendengar. Definisi mendengar itu, tidak selalu mendengar itu kita menjawab “Ya”. Mendengar itu bisa dengan membaca dalam diam kemudian menjawabnya dalam sebuah tindakan. Sekiranya itu sih keseharian saya untuk meng-clear-kan. Mereka yang punya masalah dan kita tidak punya kewajiban memaksakan mereka percaya.

Bagaimana Anda melihat kondisi sosial di masyarakat yang banyak disuguhi informasi soal Covid-19?

Masyarakat itu terbagi tiga. Pertama geng denial. Kedua, geng yang sudah menerima tapi tidak mau mengikuti prokes. Jadi Covid-nya dipercaya ada, tapi mereka tidak mau menerapkan prokesnya. Saya berharap kita masyarakat mayoritas kelompok ketiga yaitu kelompok yang beradaptasi, menerima dan mau beradaptasi.

Problemnya dalam komunikasi publik masyarakat itu kan mengakses informasi ke lima pihak. Satu, ke saya sebagai pemerintah. Dua, ke ahli yaitu dokter. Tiga, ke influencer, tokoh agama, tokoh masyarakat, selebgram. Empat, provokator seperti akun-akun provokator. Lima, masyarakat umum.

Geng denial ini menggunakan semua sumber informasi untuk membisingkan ruang-ruang informasi kita. Harusnya kan kalau kesehatan nanya ke dokter bukan ke pemusik. Sekarang pemusik dijadikan referensi untuk urusan Covid. Itu dikatakan tidak masuk akal. Kalau saya nanya music, saya nanya ke pemusik dong bukan ke dokter. Ini urusan klinis, virus kok malah nanya ke pemusik. Kelompok denial ini kan noisy minority, jumlahnya sedikit tapi bising. Sebenarnya sebagian besar dari kita itu silent majority.

Bagaimana merespons warga yang mungkin masih ngeyel atau sampai sekarang tidak percaya Covid-19?

Salah satu cara terbaik melawan orang bodoh adalah diam. Kira-kira begitu. Karena kalau dilawan, tidak berkesudahan. Kalau orang bodoh diajak jadi teman, dia selalu menyakiti kita. Ada yang menantang saya berdebat, tapi saya melihat karakternya bukan tipe orang mencari jawaban. Memang ingin meluapkan kekesalan saja. Makanya saya tidak melayani yang begitu.

Tapi kalau memang butuh jawaban yang saya bantu saya menjawab. Kapan saya menjawab? saya beri waktu di sela-sela rapat, jam makan siang. Saya multitasking. Ke lapangan iya, jawab medsos iya, mengurus rapat iya. Apalagi sekarang ini agenda saya 100 persen Covid-19. Pagi-siang-malem sampai mimpi pun ngurusinnya Covid.

Bagaimana Kepala Daerah memberi semangat optimisme di tengah warga yang mungkin sedang dalam fase lelah akibat Pandemi berkepanjangan?

Ibarat perang, kalau Jenderal patah pasti kalah. Kalau lemas, pasukan pasti juga lemas. Asal-asalan. Kondisi saya sedih karena keluarga ada yang meninggal. Tapi kan tidak bisa saya tampilkan kesedihan-kesedihan itu. Yang ditampilkan optimisme. Senyum, semangat supaya rakyat juga ada yang bisa dicontoh dari situasi yang serba sulit ini.

Sehingga akhirnya saya paham kalau saya berkomunikasi ke hal-hal yang non dinas, saya berpuisi, saya melukis, saya semangatin. Saya kadang-kadang bercanda receh. Selalu ada posting receh of the week. Yang sebenarnya hanya untuk supaya orang jangan larut dalam kesedihan 100 persen. Jadi itu yang saya coba tampilkan. Tetap punya semangat tinggi, mudah-mudahan itu juga diikuti oleh rakyat-rakyat saya yang sudah lelah. kapan ini berakhir saya juga bisa jawab dan tapi yang pasti Kami tidak akan pernah berhenti mencari solusi. Termasuk kalau media juga punya solusi yang lebih baik, ayo sama-sama. Karena ini kan perang bersama. [merdeka]