Headlines
Loading...
Minta Tertibkan Jenderal Aktif Terindikasi Main Politik, Jansen belum Ditanggapi Panglima TNI

Minta Tertibkan Jenderal Aktif Terindikasi Main Politik, Jansen belum Ditanggapi Panglima TNI

Minta Tertibkan Jenderal Aktif Terindikasi Main Politik, Jansen belum Ditanggapi Panglima TNI
NegeriNews - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto belum memberikan tanggapan atas pertanyaan politikus Partai Demokrat Jansen Sitindaoan yang meminta menertibkan jenderal aktif menulis status di media sosial yang diindikasikan bermain politik.

“Nuwunsewu pak @TjahjantoHadi kami mau bertanya: makna TNI Netral itu seperti apa? Jika di medsos ada TNI aktif nulis status diksinya bawa² “pemerintah masa lalu”, itu masih netral apa tdk? Penting ini dijawab,” kata Jansen di akun Twitter-nya @jansen_jsp.

Kata Jansen, anggota TNI lainnya bisa dibenarkan jika tidak menertibkan jenderal aktif yang menulis status di medsos dengan indikasi bermain politik. “Jika itu benar biar yg lain bisa ngikuti kalau salah ya ditertibkan,” paparnya.

Selain itu, Jansen meminta KSAD Jenderal Andika Perkasa menertibkan jenderal aktif yang diindikasi bermain politik tersebut.

“Karna tdk tahu akun beliau pertanyaan yg sama jg kami ajukan kpd Bpk Jend Andika Perkasa selaku Kepala Staf @tni_ad. Agar soal netralistas ini bisa kembali diterangkan sehingga bisa jd pegangan kita semua termasuk anggota TNI. TNI adl milik NEGARA pelindung kami dan kita semua,” pungkasnya.

Sebelumnya, Komandan Paspampres (Danpaspampres) yang juga menantu Jenderal (purn) Luhut Binsar Pandjaitan, Mayjen Maruli Simanjuntak mengaku status Facebook tersebut merupakan akun pribadinya.

Ia menilai statusnya tersebut merupakan pernyataan pribadi. Dia menegaskan status media sosialnya tak memiliki unsur politis sama sekali.

“Loh kita enggak berpolitik kok. Emang itu termasuk berpolitik? Kan saya cuma bikin pernyataan. Wajar dong. Orang bikin pernyataan, sesuatu, ya wajar dong,” kata Maruli, Senin 6 April 2020 dikutip dari Kumparan.

Adapun bunyi status FB Maruli antara lain:

Kritik kepada Pemerintah adalah hal yg lumrah, bagian dari proses untuk mencapai tujuan, namun jangan percaya pada orang yg mengkritik;
  1. Bekas pejabat Pemerintah masa lalu, atau diberhentikan. Komisaris, Deputy dsbnya (dulu kemana saja)
  2. Orang yang ingin jadi pejabat, tapi kalah pilkada, atau tidak terpilih menteri dll.
  3. Silahkan isi lagi ……..

Google namanya umumnya kira 2x begitu.
Status Facebooknya yang lain yaitu:
SD sedang berpikir keras untuk paling tidak menghindar, F mencoba menggalang kekuatan. Jaman sudah berubah Bung !!. Sebagian besar sdh berpikir kedepan.
Apa tidak pernah lihat K sdh nangis 2x di sidang, memang ada yg peduli?? Paling hanya orang yg menanggapi di Medsos, sesudah itu lanjut sidang lagi.
“Mulutmu Harimaumu”

Maruli tidak menjelaskan siapa yang ia maksud dalam profilnya. Kini, ia hanya ingin mengajak semua pihak untuk bekerja bersama. “Sekarang kerja, kerja, kerja,” jelas dia.